(Film) Bagaimana Rami Malek Membuat Jaya Film Bohemian Rhapsody dan Bagaimana Kami Dibuatnya Mendengarkan Kembali Lagu-lagu Queen

Waynes World The Movie 1992

Para pemuda-pemudi MTV yang lahir jauh setelah lagu Bohemian Rhapsody diciptakan (Oktober tahun 1975), harus berterima kasih kepada Mike Myers. Di dalam adegan pembuka film Waynes World yang dirilis di tahun 1992, Mike Myers (yang berperan sebagai Wayne) dan kawan-kawannya memutar lagu Bohemian Rhapsody untuk kemudian ber head-banging ria di mobil mereka. Mike sebagai penggemar berat Queen dikabarkan memaksa secara keras kepada produser film Waynes World bahwa dirinya akan terus melanjutkan film itu, hanya bila lagu Bohemian Rhapsody lah yang diputar untuk adegan tersebut secara lengkap dari awal sampai akhir.

Mike berkisah, mengingat Bohemian Rhapsody sudah terlalu tua usianya, dan pangsa pasar filmnya adalah untuk generasi MTV saat itu, produser film menyarankan agar mengganti lagu dengan lagu-lagu yang lebih kekinian, misalnya salah satu dari lagu-lagu Guns’n’Roses. Mike menolak, produser film menyerah, dan sebagai akibatnya, di tahun 1992 itu lagu Bohemian Rhapsody kembali menembus tangga-tangga lagu dunia, dan generasi MTV, termasuk saya, kemudian bisa ber headbanging ria kembali dengan Bohemian Rhapsody.

Itulah kenangan yang saya ingat akan lagu Bohemian Rhapsody.

Kabarnya, sebagai rasa terima kasih dari Brian May terhadap Mike Myers, yang telah menghidupkan kembali lagu legendaris itu di tahun 1992, May meminta Mike untuk ikut serta dalam proyek film Bohemian Rhapsody. Akting Mike bisa kita lihat sebagai Ray Foster, Eksekutif dari perusahaan rekaman EMI yang di dalam film diceritakan berselisih dengan Freddy dan kawan-kawaanya karena menolak mengedarkan album A Night at The Opera yang isinya dia nilai sama sekali tidak komersil, dan menolak untuk mengedarkan single Bohemian Rhapsody untuk diputar di radio sebagai usaha promosi.

“Tidak ada yang akan mendengarkan lagu yang berdurasi lebih dari tiga menit di radio, dan tidak ada pendengar yang akan berheadbanging sambil mendengarkan lagu ini”

Adegan di dalam film Bohemian Rhapsody itu sesungguhnya adalah perwujudan rasa terimakasih Brian May untuk Mike Myers. Tidak ada yang akan menyangka sebelumnya bahwa Mike Myers yang berakting sedang ber-headbanging ria dengan lagu Bohemian Rhapsody di film Waynes World tahun 1992, ikut serta dalam project Bohemian Rhapsody 26 tahun kemudian, berperan sebagai produser musik yang pernah bilang, tidak akan ada orang yang ber-headbanging ria sambil mendengarkan lagu ini.

A Night at The Opera Album

Di dalam film Bohemian Rhapsody, Freddy dkk dengan jumawa dan pede nya meninggalkan Ray si Executive EMI itu dan memutuskan untuk mengedarkan lagu Bohemian Rhapsody melalui jaringan radio indiependent sampai akhirnya lagu tersebut menjadi hit yang membawa group band Queen semakin terkenal.

Tapi, benarkah seperti itu kejadiannya ?

Pertama sekali, tokoh Ray Foster si Eksekutif EMI itu adalah fiktif, dan memang benar Queen kemudian meninggalkan EMI Record, tapi itu terjadi dua tahun setelah album A Night at The Opera.

Menurut cerita Brian May, periode tersebut justru adalah periode dimana Queen sedang di ambang krisis, walaupun album sebelumnya “Sheer Heart Attack” di tahun 1974 dengan hit-nya Killer Queen dianggap sukses, sebetulnya secara finansial, mereka sedang dalam keadaan bangkrut. Kontrak rekaman yang mereka tandatangani dengan perusahaan rekaman sebelumnya telah menyebabkan mereka tidak bisa menikmati hasil dari kesuksesan album tersebut, dan saat mereka mulai membuat album A Night at the Opera, kondisinya sudah teramat kritis, bahkan pernah Roger Taylor diperingatkan agar tidak memukul drum nya terlalu keras karena mereka tidak akan mampu membeli penggantinya andaikan rusak.

Brian May bahkan bilang, andaikan album A Night At The Opera tidak sukses, nama Queen sudah pasti telah hilang seperti dihempas gelombang lautan. Beruntung mereka kemudian menyewa jasa John Reid, saat itu adalah manager Elton John dan menyarankan agar mereka segera masuk kembali ke dapur rekaman dan merekam album terbaik yang mereka bisa hasilkan. 

Bagaimana proses rekaman album tersebut?, di dalam film memang hanya diulas sedikit, padahal mungkin para penggemar Queen pasti berharap bagian ini yang harus menjadi fokus.

Di dalam film, Freddy terlihat sangat serius memperhatikan detail lagu satu persatu di dalam album, apalagi ketika mereka merekam Bohemian Rhapsody. Sekecewa apapun para penonton, akan tetapi adegan-adegan saat lagu itu direkam cukup membuat terhibur penonton, walaupun tidak ada penjelasan atas pertanyaan Roger Taylor,

“Siapa sih si Gallileo ini ?”.

Freddy Mercury yang gay

Sascha Baron Cohen adalah sebenarnya aktor pilihan pertama untuk memerankan Freddy Mercury, dari berbagai berita spekulasi yang dilansir di berbagai macam media di internet, Cohen meninggalkan produksi film BR karena tidak lagi sejalan dengan Brian May dkk, atau dengan kata lain, Brian May dkk dianggap terlalu ikut campur ke dalam cerita BR.

Brian May mempunyai agenda sendiri, yaitu mengenalkan kembali group mereka Queen ke pemirsa dan pendengar millenial, dan untuk tujuan itu mereka harus mendapat persetujuan dari badan sensor yang akan menggolongkan film BR di kategori untuk 13 tahun ke atas. Oleh karena itu, tentu saja  berbagai adegan seks, homoseks terutama, dan illustrasi berbagai pesta narkoba yang sering dilakukan oleh para personils group band Queen di masa sukses mereka tidak boleh terlalu vulgar ditampilkan dalam film.

Sedangkan Cohen sendiri punya keinginan lain, ia berharap, film ini seharusnya menjadi biopic Freddy Mercury dan berharap cerita film bisa berfokus di masa-masa setelah Freddy Mercury divonis terjangkit HIV, sementara Brian May dkk rupanya lebih menginginkan agar cerita justru dititikberatkan pada masa awal dimana band Queen memulai karier band dan kemudian mendapatkan kesuksesannya, dan diakhiri cerita konser Live Aid. Plot film dengan tema semacam cerita inspirasi biasa saja.

Freddy Mercury vs Sascha Baron Cohen

Cerita dimana Freddy Mercury divonis terjangkit HIV memang (harus) ditampilkan, walau hanya sedikit saja di ujung cerita, Freddy terpuruk untuk kemudian bangkit kembali sebagai seorang bintang rock di konser Live Aid. Sesungguhnya, saat konser tersebut dilangsungkan Freddy Mercury belum divonis menderita HIV, justru ia sedang dalam puncak penampilannya.

Cohen “menuduh” Brian May terlalu ingin melindungi image dari band Queen, sebagai band priyayi legendaris, mereka tidak mau mengumbar sebuah film yang menceritakan pesta-pesta liar yang sering mereka selenggarakan, diantaranya adalah sebuah pesta yang sudah sangat terkenal menjadi bahan gunjingan para selebriti di masa itu dimana para perempuan telanjang mondar mandir kesana kemari membawa narkoba dan para manusia kerdil menyuguhkan alkohol dan makanan sepanjang pesta.

Di dalam film BR, adegan itu ditampilkan, dengan menempatkan Freddy Mercury sebagai penyelenggara pesta dan Brian dkk sebagai tamu, mereka bahkan difilmkan merasa tidak nyaman berada dalam pesta itu dan meninggalkan Freddy sendirian. Freddy di dalam film, diceritakan karena saking kesepiannya, kemudian menelpon Mary Austin dan untuk pertama kalinya bertemu dengan John Hutton yang diceritakan bekerja sebagai salah satu pelayan di rumah Freddy saat pesta itu dilangsungkan (padahal profesi Hutton sebenarnya adalah seorang tukang cukur).

Sebagian penggemar Queen (atau Freddy Mercury) mungkin akan geram akan adegan itu, Brian May dkk dianggap sebagai orang-orang yang setelah mencapai sukses kemudian hidup “lurus” tenang bersama pacar dan istri masing masing, sementara Freddy digambarkan sebagai binatang pesta. Betapa liar pesta-pesta tersebut sampai Freddy melupakan band dan teman-teman yang sudah ia anggap sebagai keluarga. Brian May bahkan digambarkan sempat menghukum Freddy yang mengemis-ngemis ingin kembali bergabung dengan mereka.

Sungguh keterlaluan bukan ? , walaupun adegan itu memang lucu, tapi kemungkinan besar sama sekali tidak mencerminkan karakter Freddy dan hubungan dengan teman-temannya.

Di dalam proses selanjutnya, sutradara awal BR, Bryan Singer kemudian ikut mengundurkan diri, kabar yang tersebar sih menyebutkan bahwa ia sebetulnya dipecat. Apa sebab?, kemungkinan besar juga berbeda pendapat dengan Brian May dkk. 

Apakah Freddy seorang biseksual ataukah gay ?, Mary di dalam film tersebut berkata,

“Freddy kau adalah seorang gay !” , membantah pernyataan Freddy sendiri yang bilang dirinya adalah seorang biseksual. Jalan cerita film sepertinya memang ingin mencitrakan diri Freddy sebagai biseksual, seorang suami yang terjebak dalam kehidupan gay akibat pergaulannya dengan Paul Prenter dan seterusnya. Padahal, Mary menceraikan Freddy karena Freddy ketahuan tidur dengan salah seorang eksekutif di perusahaan rekaman yang juga seorang lelaki, bukan karena Prenter.

Bohemian Rhapsody versus The Doors

The Doors karya Oliver Stone menurut saya adalah salah satu film biopic paling keren sampai saat ini, dan penampilan Val Kilmer yang memerankan Jim Morrison frontman dari group band The Doors adalah salah satu puncak peran dalam karirnya.

Semenjak awal, melihat bagaimana BR dipromosikan, tidak ada ekspektasi lebih untuk berharap Freddy Mercury bisa ditampilkan sama dengan cara sama seperti Stone memfilmkan Jim Morrison. Stone di dalam film The Doors masuk ke dalam alam pikiran Jim Morrison bahkan saat ia sedang mabuk, segala pesta seks dan miras ditampilkan secara vulgar dan yang paling keren adalah ketika Stone berani memfilmkan salah satu adegan dimana Jim Morrison dkk memantik kerusuhan di dalam konser di Miami saat ia mengejek penonton di konser tersebut dengan cara memperlihatkan penisnya karena kesal dengan perlakuan polisi yang memperlakukan dirinya seperti kriminal.

Sementara di BR, semua adegan film memang sangat aman-aman saja, maklum, ini adalah film dimana diharapkan para orang tua bisa membawa anak-anak remaja mereka ke bioskop dan kemudian syukur kalau mereka bisa menjadi penggemar Queen baru.

Tapi bagaimana akting Rami Malek versus Val Kilmer, mereka berdua sama-sama memerankan tokoh dan figur rock star legendaris, siapa yang lebih unggul ? , dikarenakan pengganjal gigi Rami Malek yang menurut saya terlalu mengganggu, Val Kilmer jadi lebih unggul.

Sampai saat ini, apabila teringat Jim Morrisson maka selalu tergambar wajah Val Kilmer. Apakah dikemudian hari orang yang teringat Freddy Mercury akan mengingat wajah Rami Malek ?

Oh iya, ada sebuah adegan di film BR ketika dalam satu jumpa pers, Freddy Mercury yang kesal dengan serangan pertanyaan para jurnalis akan seksualitasnya dan kehidupan malam yang ia jalani kemudian menjawab dengan sangat kasar dan asal-asalan, bahkan ia bilang bahwa orangtuanya sudah meninggal dalam satu kecelakaan lalu lintas.

Di film The Doors, adegan yang sama juga ada.

Konser Live Aid itu

Bob Geldof harus membohongi Queen bahwa band band besar lain sudah memastikan partisipasi mereka di dalam konser itu, dan kepada band-band itu, ia bilang bahwa Queen telah memastikan untuk berpartisipasi. Padahal, belum ada diantara band-band itu yang sudah memberikan konfirmasinya. Taktik berbohong semacam itu terpaksa ia lakukan agar band-band besar yang ia undang, mau tampil. Akhir cerita, Live Aid berjalan sukses dan Queen menjadi “penguasa” tak resmi konser tersebut.

Keragu-raguan Queen untuk partisipasi, bukanlah disebabkan oleh kondisi Freddy Mercury yang merosot, tapi karena Queen kelelahan akibat tour panjang mereka di Australia dan Selandia Baru yang selesai berdekatan dengan waktu konser Live Aid. Tapi kita semua tahu, Queen akhirnya hadir dan penampilan Freddy Mercury sebagai frontmant Queen di konser itu, dikenang sepanjang massa.

Freddy memberikan komando bagi puluhan ribu penonton yang hadir dengan percaya diri, puluhan ribu penonton menuruti instruksi Freddy, dan semenjak itu, OOH YEEAH selalu dilakukan Freddy di konser konser berikutnya. Bob Geldof sempat berkomentar betapa takjub dirinya melihat puluhan ribu penonton bernyanyi lagu Radio Gaga dengan koor tepuk tangan yang dikomandoi Freddy, ia bilang tidak semua penonton yang hadir disitu adalah fans Queen, tapi mereka bisa serentak patuh terhadap komando Freddy.

Ia sadar, Freddy telah menguasai Live Aid dan merubahnya menjadi panggung Queen. Queen mendokumentasikan konser Live Aid secara khusus dengan merilis rekaman konser itu dalam bentuk blu-ray.

Rami Malek yang awalnya mengesalkan tapi berhasil membuat kagum

Sebelumnya, ia hanya dikenal sebagai aktor utama dalam drama televisi Mr. Robot, dan ketika ia dipilih untuk menggantikan posisi Sascha Baron Cohen untuk memerankan Freddy Mercury, tentu saja banyak yang meragukannya, kecuali Brian May.

Brian May dalam satu wawancara berkata bahwa pertama ia bertemu Rami, firasatnya berkata bahwa pilihan mereka sudah tepat, dan Rami memang tidak membuat mereka kecewa. Bryan Singer mengunggah sebuah potongan klip di dalam akun instagramnya yang memperlihatkan adegan gladi resik dimana Rami sedang diambil gambarnya ketika bermain piano saat konser Live Aid, disitu hadir dua personil Queen, May dan Taylor.  Di dalam unggahan yang lain, ada foto Brian May yang sedang tersenyum di balik panggung sambil menonton Rami Malek yang sedang beraksi menjadi Freddy Mercury. May mungkin terkenang kembali akan konser itu, dan mungkin ia hampir yakin kalau di depannya, Freddy hidup kembali .

Mandatory Credit: Photo by Chelsea Lauren/REX/Shutterstock (9794183af)
Rami Malek
‘Papillon’ film premiere, Arrivals, Los Angeles, USA – 19 Aug 2018

Akting Rami memang seperti mesin diesel, di awal-awal film, saya sendiri merasa sangat terganggu dengan pemakaian gigi palsu yang kelewat tonggos, selain itu aksen Rami menjadi aneh. Gigi palsu sialan itu membuat film BR menjadi seperti komedi DKI, tapi dengan berjalannya waktu, ketika kita mulai terbiasa dengannya, akting Rami menjadi.

Dan puncaknya, apalagi kalau bukan konser Live Aid itu. Semua lenggokan dia adalah copy dari Freddy bahkan ia bisa secara meyakinkan menjadi Freddy yang sedang bermain piano dan berdiri di depan puluhan ribu penonton, bersinglet putih memberikan komado … Ohh Yeaaah !

Dahsyat Rami !

MM&RF (Pendengar Lagu-Lagu Queen)

Film Travelogue

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: