(Travelogue) Situ Gunung Suspension Bridge

Fun Hiking Gani’92

Situ Gunung Suspension Bridge

(I)

Kawasan wisata alam Situ Gunung di Cisaat Sukabumi semakin terkenal dengan adanya wahana baru jembatan gantung (suspension bridge) terpanjang di Indonesia, dengan panjang 250 meter dan ketinggian 160 meter dari permukaan tanah. Jembatan ini terbentang di atas hutan yang rimbun, berfungsi sebagai jalan singkat menuju Curug Sawer. 

Jembatan ini dibuka pada lebaran Juni 2018 lalu, namun ditutup kembali untuk perawatan dan penambahan fasilitas. Beruntung Gani’92 (Keluarga Alumni SMAN 2 Bogor Angkatan 92) mendapat pemberitahuan bahwa pada bulan Oktober lalu, kalau jembatan sudah kembali dibuka, tapi hanya dibuka di hari biasa saja (tidak berlaku di akhir pekan). Beberapa alumni mencoba keberanian untuk menyusuri jembatan gantung pada Kamis 11 Oktober, karena akhir pekan pengunjung sangat padat.

Dengan membayar tiket 50.000 rupiah, kita akan mendapat satu tiket seperti kartu kereta commuterline yang ditempelkan pada gerbang masuk dan selembar kertas yang berisi informasi fasilitas yang akan kita dapatkan, menyusuri hutan rimbun dengan pohon damar, minuman dan penganan selamat datang di balkon dengan latar jembatan gantung di kejauhan, masuk kawasan Situ Gunung. Setiap fasilitas yang sudah kita manfaatkan, akan dicontreng oleh petugas.

Tidak jauh berjalan dari balkon, kita tiba di gerbang jembatan gantung. Petugas akan mengatur lalu lintas penyeberangan. Ada daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama menyeberang di atas jembatan, diantaranya adalah dilarang menggoyang-goyangkan jembatan, dilarang berlarian atau meloncat-loncat. 

Berjalanlah dengan tenang dan santai, nikmati pemandangan dari atas jembatan yang membelah lembah. Dengan latar pohon hijau yang rimbun. Rasakan angin semilir berhembus segar menerpa wajah. Dari kejauhan, kalau beruntung, kita bisa melihat elang melayang di kejauhan. Tidak usah panik. Jika ragu dan takut ketinggian, anda bisa berpegangan kepada teman. Seperti yang dilakukan oleh beberapa teman yang takut ketinggian, mereka menggandeng erat kawannya sampai tiba di ujung jembatan sambil senyum manis meringis. 

 

Perjalanan bisa dilanjutkan ke Curug Sawer melewati jalan setapak yang sudah tertata rapi. Di curug ini tidak boleh berenang. Tapi kita bisa bermain air di aliran sungainya yang jernih dan dingin. Jalanan menuju curug ini tidak terlalu terjal. Para alumni SMAN 2 Angkatan 92 bisa melaluinya tanpa kesulitan, bahkan sambil mengobrol dan becanda. Lupa kalau kami sudah lulus sekolah 25 tahun lalu. 

Hal lain yang membuat kawasan Situ Gunung semakin nyaman adalah fasilitasnya yang semakin lengkap dan bersih. Toilet, tempat sampah, balkon dan warung-warung yang sedang ditata ulang.  Jangan lupa untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan dengan ikut menjaga fasilitasnya tidak merusak, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak memberi makan hewan yang ada di sana.

Untuk pergi kesana, dari Bogor ambil arah ke Sukabumi, sesampai di mesjid agung Cisaat berbelok ke kiri mengikuti papan petunjuk jalan menuju arah ke Situ Gunung, apabila sudah sampai disitu, ikuti terus jalan utama sampai akhirnya tiba di ujung jalan yang merupakan pintu masuk menuju ke Situ Gunung, Situ Gunung berada di ketinggian sekitar 800 mdpl, di pagi hari udara dingin masih bisa dinikmati lengkap dengan kabut tebalnya, dan apabila memutuskan untuk menginap di sini, jangan lupa lengkapi dengan perlengkapan baju hangat yang memadai, kawasan Situ Gunung menyediakan area untuk berkemah, kalai tidak bisa juga menginap di beberapa penginapan yang tersebar sepanjang jalan menuju ke Situ Gunung. Situ Gunung Sukabumi terletak tidak begitu jauh dari Bogor, dari data Google Maps, jaraknya tidak lebih dari 40 KM saja, hanya memang jalanan Bogor-Sukabumi sudah sangat terkenal akan kemacetannya yang disebabkan oleh antara lain pasar tumpah di sepanjang jalan, ditambah sedang adanya pengerjaan beton jalan yang selalu saja ada seakan tidak pernah selesai, apabila ditambah dengan kemacetan yang diakibatkan oleh jam bubar dan masuk karyawan pabrik yang terletak di sepanjang jalan menuju Sukabumi, waktu tempuh menuju Situ Gunung bisa semakin lama, untuk mensiasati semua itu, disarankan agar bisa berangkat dini hari, dan setelah sampai di sana, bisa melepas lelah sambil menikmati pemandangan cantik dan udara segar dari atas jembatan gantung Situ Gunung, Sukabumi. 

(Hani Hasanah).

 

 

 

Cerita Panitia dari Balik Layar

(II)

Saya diberitahu mengenai rencana untuk mengadakan fun hiking Gani’92 ketika tidak sengaja bertemu dengan sebagian pengurus Gani’92 di sebuah kafe di Jalan A. Yani yang sedang melakukan pertemuan. Situ Gunung dipilih karena jaraknya relatif dekat, tidak perlu sampai harus menginap, dan beberapa diantara kita sudah pernah kesana, medan trekkingnya pun tergolong mudah, selain itu perjalanan ke Situ Gunung bisa dikombinasikan dengan wisata kuliner ke Sukabumi.

 

Ketika persiapan sedang disusun, kami mendapat kabar dari pemilik Villa Cemara (Villa yang kita gunakan sebagai tempat untuk makan siang dan beristirahat) bahwa Suspension Bridge Situ Gunung sudah dibuka kembali dengan persyaratan bahwa jembatan akan dibuka eksklusif apabila rencana dilakukan tidak di akhir pekan, dengan persyaratan minimal peserta 30 orang. Adanya penawaran tersebut membuat rencana akhirnya disusun ulang, dengan asumsi bahwa jembatan tersebut akan menarik lebih banyak minat peserta, akhirnya diputuskan bahwa rencana fun hiking akan dilakukan di hari biasa sesuai dengan persyaratan dari pihak pengelola Situ Gunung.

 

Seminggu sebelum hari-H, pemilik Villa Cemara memberi kabar bahwa Situ Gunung Suspension Bridge sudah dibuka untuk umum termasuk di akhir pekan, lengkap dengan cerita kalau pihak pengelola kewalahan menghadapi ledakan pengujung yang ingin mencoba menyeberangi Suspension Bridge, kemacetan total terjadi sejak Jumat malam, parkir bis dan mobil mengular sampai berkilo meter jauhnya, pengunjung antri sampai berjam-jam hanya untuk bisa mendapat giliran menyeberangi Suspension Bridge (karena hanya dijatah 50 orang per-group dalam sekali keberangkatan menyeberangi jembatan). Di hari Minggu lebih parah lagi, pengunjung yang masuk jam 12 siang, baru kembali jam 6 sore hanya untuk bisa menyeberangi Suspension Bridge menuju Curug Sawer, bahkan yang tidak kebagian di hari Minggu, mereka kembali lagi di hari berikutnya.

 

Mau tidak mau, semua berita itu membuat kami jadi was-was, bagaimana kalau di hari H kita disana, terjadi juga kekacauan yang sama?, selain hanya bisa berdoa, satu-satunya jalan adalah mengusahakan agar rombongan bisa berangkat lebih pagi lagi, sambil terus memantau keadaan di Situ Gunung. 

 

Syukurlah, semua yang kami kuatirkan ternyata tidak terjadi. Di hari H, kawasan Situ Gunung berada dalam kondisi terbaiknya, cuaca yang tidak terlalu panas, udara yang segar dan agak dingin, serta sepinya pengunjung membuat kita lebih bisa menikmati suasana, terlebih ketika kami semua secara satu-persatu mulai menyeberangi jembatan, hampir tidak ada orang lain lagi kecuali kita yang menyeberangi jembatan itu, sehingga diantara kami, ada yang dengan bebasnya berpose sambil bertiduran di papan alas jembatan sambil di foto.

Kami semua senang, bisa bergembira bersama. Semoga ada kesempatan lain lagi untuk kebersamaan kita. (Meta Miranti) 

Gani92News Travelogue

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

1 Comment Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: