(Let Them Be Little) Kepada Gunung, Jangan Turunkan Temperaturmu, Nanti Aku kedinginan

Razwa Dhiya Queenatta atau akrab dipanggil Neng, adalah putri bungsu dari kawan kita Eka Desyanti (Bio1) alias Eka Ujang. Usia Neng sekarang 11 tahun dan  bersekolah di SMP Pesat Bogor, kelas 1.

Ini adalah tulisan Neng mengenai pengalaman pertamanya mendaki Gunung Papandayan, berisi kesan-kesan selama perjalanannya yang ditulis dengan gaya seru ala remaja usia 11.

Awalnya, tulisannya ini hanya berupa caption pendek salah satu foto di akun instagram miliknya, dan karena banyak orang ternyata memuji tulisan singkatnya itu, kami kemudian membujuknya agar tulisan tersebut dikembangkan lagi lebih panjang, dan inilah hasilnya. Sengaja tulisan Neng tidak disunting, agar kita bisa menangkap dan merasakan semangat remaja masa kini, lengkap dengan sudut pandangnya yang berbeda dengan kita, ketika melihat dunia.

24 September 2017

Kangen Bapa Tua, Rayyan, Hutan mati, Padang Mahsyar, Bunga Edelwish dll.  (sic)

Kata-kataku buat alam ; Buat babi, maafkan kami yang telah mengganggu tenpat wilayahmu, jangan lupakan Pig Benk ya .., dan buat Mohawk jangan sering berantem dengan anjing imut nan manis dan jangan gafok nanti kena tali tenda malem-malem.

Buat gunung, jangan turunkan derajat celciusmu, nanti diriku kedinginan, dan untuk danaumu, berilah air agar tidak kering.

Pertama berangkat sih, aku masih malu-malu, ya karena kan ga ada yang aku kenal, kecuali Tante Meta ya, karena si Amih ketemu terus dengan Tante Meta. Jadinya ya sepanjang perjalanan diem-diem aja.  Setelah sampai tujuan bisa ga bisa otomatis ini mulut akhirnya mau ngomong ama Kalief dulu (yang dalam perjalanan ini menamakan dirinya si Bapa Tua) gara-gara kegemarannya menangkap belalang, lama-lama Rayyan mendatangi Kalief , jadi deh kita akrab bertiga.

Buat belerang, jangan bau kaya t*i, ga tahan diriku dengan kebauanmu.

Sebenernya, saat baru mulai mendaki sih masih diem-dieman, baru deh pas istirahat mulut saya kembali kebuka ngomong ama Kak Hamaya, awalnya malu-malu sih,  tapi dipaksa jangan malu ama Amih, ya sudahlah saya ikhlaskan, saat di tenda baru deh akrab ama semua, main bareng sama Kalief, Rayyan, Teh Qumi dll.

Perjalanannya sih panjang juga, ga pake banget, berkesan sekali, apalagi saat perjalanan udah dekat tenda (Base Camp) semua sudah senang, eh ternyata masih harus muter menjauh, tapi biarin deh, yang penting have fun banget.

Pendakiannya sih susahnya itu pas tanjakkan yang jalannya kerikil semua, kemudian di kanan tebing dan di kiri jurang, untung masih bisa berpegangan ke pohon kecil.  Dan satu lagi yang susah parah itu, adalah saat di Hutan Mati, turunan nya itu loh… Astagfirullah, kemudian sempat juga salah jalan, padahal aku udah paling depan, eh disuruh balik arah.

Sedangkan saat perjalanan pulang,  bagian paling susah itu ketika harus menghadapi turunannya  yang berpasir kerikil semua, Astagfirullah … mau teriak ga bisa, diem juga ga bisa, hanya sabar saja yg penting bisa turun ya ga?

Akhirnya ketemu warung, happy deh tuh semua, makan minum sepuasnya, apalagi setelah sampai di bawah lagi, istirahat lah leha-leha gitu, kemudian langsung deh berendam air anget apa panas sih di pemandian gitu? Itulah.

Sebenernya, pas sore-sore itu ya, aku udah kecapean parah, pegel sih, ga banget, eh saya  ketiduran. Entah apa yang terjadi di sore hari itu, karena saya tertidur kelelahan dan terlelap dalam mimpi-mimpi. Jam setengah 9 malem, aku dibangunin tuh, dibangunin Amih, katanya disuruh makan malam, ya mau ga mau ya saya makan malam dulu, eh kemudian kita melihat ada Pig Benk lewat. (Pig Benk adalah istilah yang mereka pakai untuk menamakan babi hutan yang memang banyak berkeliaran di sekitar perkemahan Pondok Salada Papandayan. Red)  

Selesai makan malam, saya tidur lagi di tenda, udah 2 kaos kaki, baju panjang, 1 jaket,1 sleeping bag, tetep weh tengah malem menggigil, katanya sih suara gemeletuk kedinginan aku tuh sampai kedengeran ke tenda sebelah.

Pagi-pagi aku bisa bangun sendiri, tumben ya, jam 6an pagi lah, kemudian langsung sarapan pagi,  seperti biasa pake telor dadar,selesai makan saya pengen ke toilet, airnya ga usah ditanya kayak gimana, bekutuh jari-jari, abis keluar toilet aku langsung ganti baju deh, untuk siap-siap difoto-foto, yang lain mah foto-foto, saya mah cuman 2-3 foto doang, dan langsung cari belalang dan lari-lari bersama Kalief dan Rayyan.

Selesai foto-foto, lanjut beberes , karena kita mau lanjutkan perjalanan ke hutan mati,yang lain siap-siap eh Om Tommy malah bakar-bakar makanan (lupa bakar apa), ya udah saya makan lagi. Perjalanan ke hutan mati sih biasa aja ya, ga susah dan ga gampang, balance lah, nyampe hutan mati ya leha-leha sebentar, dan langsung menuju puncak gunung ke lokasi Danau Mati.

Lanjut ?

Ini adalah puncak gunung tertinggi yang pernah aku daki, Amih pernah kesini ketempat yang sama tahun 1993. Perjalanannya tuh ada yang serem, di bagian tanjakan yang hampir lurus dan curam, takut kesoledat kitu, tapi bisa kok saya menjalaninya, kemudian ketika sudah hampir sampai puncak, eh malah disuruh muter balik karena semakin ke atas semakin susah katanya, harusnya bilang dari tadi dong, saya sedih loh, karena sudah mendaki jauh.

Ya udah lah muter balik lagi.

Jadi, yang tadinya aku, Kalief, dan Rayyan paling depan,  eh sekarang malah jadi di belakang, dan para ortu jadi ada di posisi depan. Itu tuh namanya licik,  kan harusnya kids first, tapi ketika pas ada belokan kita langsung ngebut ke depan, kasian para ortu akhirnya jadi di posisi belakang lagi. Pas sampe puncak, kita foto-foto lagi, because bagi cewe foto-foto itu number one, kalo bagi cowo ga tau dah.

Perjalanan pulang dari puncak, ketika sudah mau sampe,  aku lari, tapi karena ga bisa ngerem alhasil jatuh untuk pertama kali, eh yang baju bersih kinclong jadi pasiran, biarin deh jadi ada tandanya ini pernah merasa kan. Pokoknya,  happy sih disitu, yang paling sedih sih ninggalin gunung itu.

Terakhir, kata-kataku buat peserta ;

Perjalanan ini, seru banget, apalagi ditemani ama BAPA TUA yang masih enam tahun. Bapa Tua nanti jalan-jalan lagi ya .. Bye-bye Bapa tua yang gemesin. Bye bye gunung. (Razwa).

Catatan akhir :

Gunung Papandayan berketinggian 2400 mdpl, berlokasi dekat kota Garut, Jawa Barat dan merupakan gunung yang sangat ramai didaki karena memang sangat bersahabat bagi pendaki pemula. Razwa atau Neng, ketika ditanya ingin bepergian kemana lagi, menyebut New York dan Korea sebagai tujuan yang ingin ia datangi, ke Korea karena ingin bertemu dengan BTS.

Let Them Be Little

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: