(Let Them Be Little) “Saya Sangat Sedih Saat Harus Merantau untuk Berkuliah, Jauh dari Rumah dan Kota Kelahiran”

Memutuskan untuk terbang ke Malang dan melanjutkan program perkuliahan S1 di sana adalah keputusan terbesar yang pernah saya buat. Saya bercita-cita berkuliah di kampus yang terkenal dengan Jakun-nya.

Yaps, jaket kuning, jas almamater Universitas Indonesia. Kampus kebanggaan Indonesia, yang sangat beken dan juga bergengsi. Namun, di luar itu saya memang menyimpan keinginan besar berkuliah disana.

Kenapa? alasannya sederhana, selain dekat dengan rumah, saya ingin membuka jalur untuk adik-adik kelas saya untuk berkuliah di UI, karena memang lulusan SMA saya belum ada yang berkuliah di Universitas Indonesia.

Jalur SNMPTN, SBMPTN dan juga Ujian Mandiri telah saya ikuti untuk dapat berkuliah di Universitas Indonesia. Namun, terhempas semua harapan saya agar dapat berkuliah Universitas Indonesia, ternyata Tuhan memberikan jalan lain lewat pilihan Orang Tua saya. Ke-keras kepala-an membuat saya menjadi UI-mindset. Saya hanya ingin berkuliah di UI, selain itu tolong dipilihkan, terserah Mama dan Papa.

SNMPTN telah lewat, saya harus menerima kenyataan untuk tidak diterima, dan untuk menghadapi SBMPTN, saya tetap memilih UI jurusan Psikologi untuk pilihan pertama dan UI hukum untuk pilihan kedua. Pilihan ketiga, saya tidak (mau) tahu.

Kembali lagi, saya hanya ingin berkuliah di UI. Mama dan Papa berdiskusi untuk memutuskan kampus pilihan ketiga. Saya tidak tahu sama sekali, dan merasa tidak peduli dengan kampus untuk pilihan ketiga tersebut. Pokoknya, saya ingin UI. Untuk yang ketiga, apapun yang mama dan papa pilihkan, saya ikut. Terpilihlah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai pilihan ketiga dalam opsi SBMPTN.

3 Juli 2018 adalah waktu pengumuman SBMPTN. Ketika melihat hasil SBMPTN tersebut, saya diterima di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Psikologi. Hal yang pertama yang paling saya rasakan adalah harapan yang runtuh. Sedih karena tidak diterima di Universitas Indonesia, kampus yang selalu saya cita-citakan. Saya menangis sejadi-jadinya. Lalu menelpon papa untuk sekedar mengabari. Sembari menangis sesenggukan saya berbicara dengan Papa bahwa saya diterima di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, responnya, “Memang kenapa di Malang? sama saja, kuliah”.

Memang benar adanya. Lalu setelah saya menelpon papa, saya melihat kembali ke arah laman SBMPTN yang saya buka di laptop. Lalu bersyukur sejadi-jadinya, dan merasa berdosa telah menjadi manusia yang paling kufur nikmat. Otak saya dipenuhi oleh alasan-alasan kenapa saya harus sangat sangat sangat bersyukur.

Lalu, muncul kembali kegalauan yang kedua. Asrama. Saya bukanlah seseorang yang introvert. Tetapi bukan juga seseorang yang mudah beradaptasi. Jujur, saya tidak ingin asrama.

Berminggu-minggu menuju keberangkatan saya dihadapkan pada kebimbangan hati. Antara melanjutkan kuliah di UIN Malang dan lulus dengan waktu yang sesuai dengan planning, atau mencoba lagi tahun depan namun saya harus kembali membuat planning baru. Mama menegaskan, putuskan semuanya dengan bulat. Jika memutuskan untuk berkuliah di UIN tidak ada pilihan mengeluh untuk pindah kampus atau apapun itu, selesaikan.

Akhirnya, saya memilih menjalankan planning sesuai dengan apa yang telah saya buat sebelumnya. Lulus SMA langsung kuliah. Walaupun bukan di kampus harapan saya. Walaupun saya harus asrama. Walaupun saya harus terlempar ke kota yang sangat jauh, Malang.

Sangat berat berkuliah di kampus yang bukan saya harapkan. Sangat susah menjalankan kegiatan asrama yang tidak saya inginkan. Sangat sedih merantau, jauh dari kota kelahiran.

Namun, saya berpikir, keputusan yang Mama dan Papa buat untuk melepas putri sulungnya terbang dan berjuang sendirian di kota nun jauh adalah hal yang lebih berat dan lebih susah lagi. Jadi, saya tidak ingin menyerah. Keputusan yang telah saya ambil bersama konsekuensi dibaliknya adalah sesuatu yang harus saya tanggung dengan pundak saya sendiri.

Segala rasa sedih, takut, khawatir dan rindu pada keluarga menjadi tantangan yang paling besar. Namun, disaat seperti ini adalah saat dimana Tuhan menempatkan saya pada hal yang paling indah yang mungkin saya lupakan ketika saya berada dalam zona nyaman. Doa dan berkeluh kesah di atas sajadah, meluapkan semua rasa yang membeban didalam dada seketika menjadi pilihan yang paling menenangkan yang pernah saya rasakan. Saya sadar, saya tidak sendiri.

Semua penolakan yang saya dapatkan, semua sedih, takut dan khawatir yang saya rasakan, semua pilihan yang harus saya jalankan yang padahal tidak saya inginkan, menjadi penguat alami diri ini. Tuhan tidak memberikannya tanpa sebab. Jatuh dan bangun, senang dan sedih, rindu dan syukur yang saya rasakan sekarang adalah jalan hidup yang terbaik yang telah Tuhan gariskan kepada seorang Khallishtsa Rania Rahmadian. Saya memang sangat mencintai kota kelahiran. Namun kini, saya juga menyayangi tanah perantauan.

Khallishtsa Rania Rahmadian (Lala), adalah puteri sulung dari Dian dan Syemmy (Fis 2), Redaktur Pelaksana Magazine Gani 92 meminta Lala untuk menuliskan pengalaman pertamanya merantau jauh dari orang tua dan kawan-kawannya menuju Malang, untuk berkuliah di sana.

Tulisannya ini, selain untuk berbagi pengalaman dengan kawan-kawannya yang mungkin mengalami hal yang sama, sekaligus juga memberikan cara pandang baru bagi kita sebagai orang tua dalam menghadapi dan bersikap terhadap ambisi dan keinginan dari puteri atau putera remaja yang memulai masa dewasa mereka, termasuk ketika saat harus berkuliah.

Selamat buat Lala yang sudah diterima di UIN Malang, semoga sekarang sudah bisa tenang dan mantap dalam menjalani kuliah, dan mudah-mudahan sukses selalu. (magazinegani92)

Let Them Be Little

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

1 Comment Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: