(Let Them Be Little) Perjalanan Ke Dieng, Negeri di Atas Awan

SAYA masih ingat sekali suasana di Dieng, saya pertama tahu tentang Dieng sebagai tempat wisata terkenal adalah dari pelajaran sekolah yang membahas tentang wisata alam Indonesia dengan sejarahnya.

Saat orang tua saya mengajak untuk pergi ke Dieng, awalnya saya kira bohongan, soalnya kan Dieng itu lokasinya sangat jauh dari Bogor, tapi ternyata mereka serius, dan sekarang faktanya saya sudah pernah jalan-jalan kesana  :-).

Alhamdulillah, melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman perjalanan saya ke Dieng.

Perjalanan ke Dieng, saya ingat waktu itu bertepatan dengan tanggal merah. Perjalanan itu sebenarnya kita lakukan sekitar hampir dua setengah tahun lalu, saya masih kelas tujuh. Berhubung tanggal merah nya kejepit, jadilah saya pergi ke Dieng dan bolos sekolah.

Hari itu Selasa, tanggal 3 Mei, saya dan keluarga berangkat dari Bogor menggunakan kereta. Oh iya, saya pergi tidak hanya bersama keluarga saya saja, tapi juga dengan teman- teman orangtua saya dan anak-anaknya juga.

Jadi kami semua berangkat dari Bogor memggunakan kereta dari Stasiun Bogor, lalu turun di salah satu stasiun di Jakarta (saya lupa nama stasiunnya) kemudian dilanjutkan dengan naik bajaj ke Stasiun Gambir.
Berhubung waktu itu berangkatnya malam, jadi saya sekalian menikmati kota Jakarta juga, cuacanya ga terlalu panas kayak siang.

Nah, sesampai di Stasiun Gambir kami menunggu kereta yang akan membawa kami ke Dieng. Beruntungnya saat itu malam hari, jadi bisa tidur walau kursi keretanya tidak nyaman dan membuat kami pegal-pegal. Setelah kira-kira 6 sampai 7 jam waktu perjalanan dari Jakarta, akhirnya kami tiba di Purwekerto saat menjelang subuh. Awalnya saya kira Purwekerto itu adalah daerah Dieng, makanya saya santai-santai saja, tapi ternyata kami harus menempuh perjalanan lagi dengan menyewa mobil
elf ke Wonosobo.

Yaaah, saya kira dari Jakarta naik kereta itu bisa langsung sampai di Dieng maklum, saya tidak tahu.

Perjalanan dari Purwekerto ke Dieng cukup memakan waktu, tapi di perjalanan menuju bukit tinggi itu yang sangat tidak saya lupakan. Benar benar seperti perjalanan dari satu titik rendah sampai ke titik tinggi. Saya lihat dengan mata saya sendiri. Rasanya seperti mengejar awan di atas langit. Dan lama kelamaan saya berada di posisi yang sama dengan awan itu. Benar-benar indah sekali.

Walaupun jalannya berkelok- kelok dan curam, membuat kami semua tegang, tapi saat melihat pemandangan yang begitu indah, kami langsung takjub melihatnya. Seketika saya berpikir, wah jadi ini rasanya berada di negeri atas awan.

Setelah memakan waktu yang tidak sebentar, Alhamdulillah kami semua sampai dengan selamat. Kami menginap di sebuah homestay. Homestay yang kami tempati sangat nyaman. Terutama kamarnya cukup tertutup
dan hangat. Juga pastinya ada air panas untuk mandi. Benar-benar sesampai di sana saya merasakan suasana yang berbeda. Mulai dari warganya yang sangat sederhana, udaranya yang begitu sejuk dan bersih, juga makanan yang ada. Dengan suasana seperti yang saya gambarkan tadi, saya sangat merasa nyaman di situ, beruntung juga di depan homestay kami ternyata adalah tempat makan. Sesampainya di sana kami langsung
mengisi perut yang kosong.


Kejadian yang sangat membekas juga adalah, ketika makanan disajikan, harus langsung disantap, karena hanya dalam beberapa menit saja makanan itu sudah dingin. Saking udaranya dingin. Apalagi jika sudah malam. Setelah makan kami semua bergegas istirahat untuk pergi besok.

Hari berikutnya, adalah waktunya kami bersiap menikmati indahnya sunrise secara langsung dari Bukit Sikunir yang terletak di Desa Sembungan. Pagi-pagi sekali sekitar jam 3 subuh kami sudah bersiap-siap untuk berangkat. Sesampainya di sana, suasana sudah sangat ramai sekali, mungkin karena saat itu liburan tanggal merah. Parkirannya saja sudah penuh sekali, untungnya tempat di sana sangat luas.

Kami menaiki tangga satu-persatu untuk bisa sampai ke puncak Bukit Sikunir. Di tengah tengah perjalanan, saya sangat merasa sesak napas pengap, mungkin karena udara subuh di sana sangat dingin sekali, sampai udara nafas pun terlihat seperti asap. Saya berhenti sejenak ditemani
papah saya, sedangkan yang lain melanjutkan perjalanan ke bukit.

Kami terus menaiki tangga, rasanya memang seperti jauh dan tidak sampai sampai, huhu.. tapi mungkin itu terasa jauh karena gelapnya jalanan dan  dinginnya udara membuat orang-orang berjalan sangat pelan dan sangat berhati-hati.


Akhirnya kami sampai di atas bukit. Sayangnya kami rada kesulitan mengambil tempat yang sepi dan bagus, karena sesampainya di sana sudah banyak sekali wisatawan yang menunggu di tempat yang sudah mereka tempati terlebih dahulu. Saya juga bingung apakah orang orang itu pergi dari tengah malam, sehingga mereka bisa lebih dulu sampai sebelum saya ?, tapi untungnya kami masih bisa menikmati sunrise yang begitu indahnya.

Wahhh sekali lagi. Benar-benar seperti berada di atas awan itu , Daebak !!!! Keren sekali. Sungguh seperti tidak nyata melihat langit saat matahari baru terbit dengan campuran warnanya yang begitu indah. Saat-saat paling nikmat itu ketika melihat alam dengan mata kita sendiri yang sangat murni dan saat itu juga saya bisa menyadari betapa agungnya Allah SWT. Itu paling nyata dan tidak bisa tergantikan.

Menurut saya, sangat beruntung orang-orang seperti kami yang masih di beri kesempatan untuk melihat alam yang menakjubkan. Pengalaman itu sangat membekas dan selalu ada dalam ingatan saya. Dengan memikirkannya, membayangkan, dan mengingat kembali, saya sudah bisa merasakan kebahagiannya, apalagi kalau saya bisa kesana setiap tahun,
hehe.


Saya sangat menikmati detik-detik matahari terbit saat itu, warna langit yang begitu hitam pekat lama kelamaan menjadi ungu, pink, orange dan berganti terus menerus sampai akhirnya muncul sinar matahari. Semua kejadian itu masih terus terekam dalam pikiran saya. Benar benar kekayaan alam Indonesia itu memuaskan, saya tidak menyesal melakukan perjalanan yang cukup jauh, karena merasa terbayar lelahnya menempuh perjalanan itu oleh pemandangan menakjubkan yang saya saksikan.

Matahari pun sudah mulai terbit, tapi pemandangannya yang indah tidak serta merta langsung hilang. Terbitnya matahari membuat awan-awan terlihat sangat indah dan megah. Awannya begitu membentuk dan sinar
mataharinya seperti dilukis oleh alam. Dengan pemandangan bukit bukit dan gunung seperti itu, juga karena udara yang sejuk, membuat saya merasa rileks walau hanya sebentar.


Kami pun akhirnya turun kembali ke parkiran, di perjalanan menuruni bukit banyak sekali yang berjualan, terutama orang yang berjualan kentang mini khas Dieng. Karena penasaran (dan lapar tentunya) saya membeli satu porsi, harga nya juga cukup terjangkau hanya Rp 5000 –
Rp 10.000 saja, dan rasanya enak sekali, padahal bumbunya sangat sederhana.

Hal yang sangat unik dan bikin penasaran dari jajanan khas Dieng ini adalah bahwa kentangnya itu yang disajikan bersama kulitnya, dan ternyata sangat enak.

Sesudah melihat sunrise di bukit Sikunir, sore harinya kami bergegas ke Candi Arjuna. Candi Arjuna letaknya sangat dekat dengan homestay kami. Hanya dengan jalan kakipun bisa sampai. Candi ini merupakan peninggalan agama Hindu yang sangat bersejarah. Unik sekali bentuk-bentuk candi disini.


Yang saya suka adalah ketika jalan masuk menuju Candi Arjuna, kita bisa melihat candi-candi kecil lain di pinggir jalan yang sangat tertata rapi. Masih banyak lagi candi-candi di sekitaran situ, tapi kami hanya berkunjung ke Candi Arjuna lantaran hari sudah semakin sore, dan
seingat saya waktu itu gerimis. Saat berjalan ke luar dari Candi Arjuna, kami melihat sekawanan domba, menggemaskan sekali rasanya melihat domba asli Dieng yang berbulu tebal dan bersih, ingin rasanya saya bawa pulang, sesampainya lagi di homestay kamipun beristirahat.


Keesokan harinya kami melakukan perjalanan ke Telaga Warna Dieng dan ke Kawah Sikidang. Telaga Warna Dieng ini sangat unik, warnanya hijau kebiruan, dan sangat luas sekali. Pemandangan di Telaga Warna ini juga sangat indah, saya melihat banyak orang yang piknik bersama keluarga. Setelah dari Telaga Warna, kami berpindah ke Kawah Sikidang.

Wahhh di sana sangat menakjubkan. Mulai dari bukit-bukit kapur,jalanan batu yang rapi, bahkan juga ada tempat untuk motor trail yangsangat luas, di atas bukitnya terdapat kawah yang sangat besar. Kami harus memakai masker karena memang sangat menyengat bau belerangnya. Saat melihat kawah itu saya merasa bumi sangat unik, karena ada kolam dengan air
mendidih yang dijadikan tempat wisata. Oh dan satu lagi, di sana
bersih, telah tersedia tempat sampah yang banyak, untuk membuat setiap
pengunjung merasa sangat nyaman.

Hari terakhir di Dieng kami habiskan di homestay dan sekitarnya. Saya banyak mendengarkan cerita warga Dieng yang tinggal di sekitar homestay, katanya di bulan Agustus, cuaca bisa sangat membeku bahkan bisa sampai turun es halus serupa salju. Disini juga ada tradisi mencukur anak gimbal yang merupakan tradisi masyarakat Dieng sejak zaman dulu.
Dalam wisata saya kali ini, saya banyak menikmati suasana baru. Indahnya pemandangan alam, warganya yang ramah dan peninggalan sejarahnya
yang begitu banyak, juga unik.

Saya sangat senang bisa berkunjung ke Dieng. Salah satu tujuan wisata yang banyak dikunjungi masyarakat Indonesia maupun oleh turis asing. Saya jadi sangat bersyukur menjadi warga Indonesia, yang bisa menikmati suguhan alam yang indah.

Hari terakhir itu juga kami semua berpamitan dengan pemilik homestay untuk pergi ke Semarang, kami menginap di rumah teman orang tua saya yang memang kebetulan tinggal di Semarang. Di Semarang kami hanya berjalan-jalan saja seharian.

Pulang ke Bogor, kami menggunakan kereta lagi dari Semarang. Cerita lucunya adalah saat kami sudah memasuki menit-menit keberangkatan kereta, tetapi kami masih terjebak macet. Saat itu jalanan Semarang sangat ramai karena sedang ada acara atau festival saya pun lupa, jadi
kami semua terpaksa turun di tengah jalan dari mobil dan berpamitan dengan panik. Untunglah jalanan yang macet itu tidak terlalu jauh dari jalan menuju stasiun. Kami berlari-lari kecil sambil membawa gembolan dan dilihat oleh banyak orang hahaha, sampai akhirnya kami sampai di pangkalan becak dan kemudian menaiki becak agar lebih cepat sampai.

Sungguh sangat beruntung, saat kami sampai stasiun dan memasuki kereta, hanya dalam beberapa menit gerbong kereta sudah di tutup dan kereta pun jalan. Itu bagi saya adalah kenangan yang melekat di ingatan, bahkan dengan mengingat kejadian itu saja, saya sudah merasa
bahagia. Haha.


Setelah perjalanan jauh, Alhamdulillah kami semua sampai dengan selamat di Bogor. Kami langsung berpamitan satu sama lain, karena badan kami sudah merasa sangat lelah.

Itulah cerita pengalaman saya ke Dieng dua tahun lalu, sangat menarik dan masih teringat. Memang indah kenangan-kenangan saat berwisata ke daerah yang jauh dari kota. Terimakasih atas waktunya untuk membaca
pengalaman perjalanan saya.

(Syahna Qania Rahmadian)

Syahna Qania Rahmadian, putri kedua dari pasangan Syemmy dan Dian (Fis 2), sering di ajak orang tuanya pergi bertualang atau sekedar jalan-jalan, tulisan ini adalah cerita tentang pengalaman pertamanya di ajak mendaki gunung di pegunungan Dieng.

Let Them Be Little

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: