(Review Film) Searching : Melacak Jejak Digital


Kalau kamu penggemar film thriller yang penuh teka-teki, maka film “Searching” bisa masuk dalam daftar wajib ditonton. Ceritanya sederhana. Seperti kehidupan kita saat ini yang banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan berselancar di internet dan menggunakan social media untuk berbagi keseharian kita atau ngintip akun orang yang kita suka alias stalking. Pernah kan? 🙂  


“Searching” bercerita tentang seorang ayah, Daniel Kim yang kehilangan putrinya bernama Margot. Padahal sehari sebelumnya mereka masih ngobrol walau lewat teks dan video call. Hingga esok harinya, Margot tidak kembali ke rumah. Ayahnya mencoba menghubungi salah seorang temannya yang anakya satu sekolah dengan Margot. Tapi ternyata anaknya itu pergi kemping, jadi tidak bisa dihubungi. Ayahnya mulai panik dan menyadari ternyata selama ini dia tidak mengenal teman-teman anaknya, jadi tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mengetahui keberadaan puterinya.


Dan ternyata, laptop anaknya tertinggal di rumah. Mulailah sang bapak mencari lewat laptop anaknya. 


Sepanjang film, kita akan disuguhi gambar  dengan tayangan monitor laptop dan handphone (HP). Persis seperti kehidupan kita saat ini yang lebih banyak memegang laptop atau HP dan membuka banyak layar untuk menelusuri berita atau membuka sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, Email dan WhatsApp atau melakukan video call. 


Dan di era serbuan dawai yang semakin canggih, orangtua pun dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi supaya bisa memantau dan mengetahui apa yang dilakukan anak-anak ketika menggunakan HP atau laptopnya.


Jadi, mulailah si bapak membuka akun-akun sosial media anaknya layaknya seorang detektif yang mencari jejak digital anaknya lewat website yang pernah dikunjungi. Dia menghubungi semua orang yang menjadi teman anaknya di FB, Instagram, Tumblr, dan akun lainnya. Alih-alih mencari anaknya, akhirnya si Bapak menyadari bahwa dia tidak mengenal anaknya dengan baik.


Ternyata, selama ini anaknya kesepian setelah ibunya meninggal karena kanker. Margot lebih banyak bercerita di akun sosmednya tentang kesedihannya. Berbagi dengan orang lain di dunia maya yang banyak memberi perhatian padanya. Tempat yang sering dikunjunginya untuk menyepi. 


Nah, di sini, sebagai penonton yang senang banget tebak2an, pasti menyangka anaknya hilang karena pergi dengan orang asing yang dikenal di dunia maya. Salah besar pemirsa! Lanjut lagi tebakannya yaaa.. Oh ya. Margot itu juga tahu bagaimana harus berteman di dunia maya. Jadi ketika ada yang iseng untuk melihat badannya, dia langsung memblokir akun tersebut. 


Selama pencarian anaknya, David dibantu oleh seorang detektif perempuan bernama Vick. Tentu saja, sebagai orang yang melek internet, David ingin tahu siapa itu Vick. Maka dia pun search lewat google dan mendapat data detektif tersebut. Yang pernah mendapat penghargaan atas kerjanya di kepolisian. 

Pencarian terus dilakukan selama beberapa hari berdasarkan temuan yang didapat David lewat laptop anaknya. Termasuk posisi terakhir di mana Margot berada. Yakni danau yang sering dikunjunginya. Berdasarkan unggahan anaknya di akun sosmed.

Hingga akhirnya, kasus itu terpecahkan. Ketika David menemukan satu  petunjuk kecil di saat dia pasrah menerima anaknya sudah tiada berdasarkan temuan polisi. Dia menemukan petunjuk itu ketika selesai mengirim sebuah email.


Pelakunya adalah….. . No spoiler. Tonton saja sendiri!

Buat saya, film ini cukup bagus. Dengan cerita sederhana berdasarkan kehidupan saat ini di mana kita lebih banyak bercerita di dunia maya daripada berhubungan dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk menatap layar hp daripada berbicara menatap mata keluarga kita. 


Menyadarkan bahwa kita harus memberitahukan kepada anak-anak cara bergaul di dunia nyata juga di dunia maya. Teknologi bukanlah hal yang harus dihindari. Tapi bagaimana kita memanfaatkannya dengan cara yang baik.


Film ini disutradari oleh Aneesh Chaganty sekaligus penulis skenario. Pemainnya adalah John Cho (David Kim) dan Michelle La (Margot Kim). Produksi Sony Film.


Film ini, diawali dengan layar komputer dinyalakan dengan gambar bukit hijau diakhiri dengan layar komputer dimatikan. Shut down…

(Hani Hasanah)

cerita rindu kelanaIG: @hanisiti1407

Film

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: