(Review Film) Aruna dan Lidahnya

Aruna dan Lidahnya: Petualangan Rasa dan Hati

Film ini memang membuat penonton lapar, jadi bersiaplah.

Di adegan awalnya saja kita sudah disuguhi Aruna (Dian Sastro) memasak sop buntut. Suara air meletup dalam panci yang berisi daging, bumbu-bumbu dimasukkan, warna sayur wortel yang cerah dan kemudian masakan pun siap disantap.

Sup buntut yang dagingnya mudah dilepaskan dari tulangnya, terlihat lembut dan sedap. Ditambah kecap. Gustiii.. Saya baper! Bawaan laper, dan itu berlangsung sepanjang film.

“Aruna dan Lidahnya”, adalah film yang diadaptasi dari buku karya Laksmi Pamoentjak, bercerita tentang Aruna seorang pecinta kuliner yang ditugasi oleh kantornya untuk menyelidiki kasus flu burung di empat kota di Indonesia.

Sebenarnya dia mau menolak tugasnya karena sudah ada rencana untuk pergi berlibur sambil kulineran bersama sahabatnya,  Bono (Nicholas Saputra) seorang Chef, tapi Bono membujuk Aruna untuk menerima tugasnya karena dia akan menemani dan malah sudah siap dengan daftar makanan yang wajib disantap di empat kota yang akan dikunjungi Aruna: Surabaya, Madura, Pontianak dan Singkawang. Rawon Surabaya, Canpor lorjuk (kerang bambu), Soto lamongan, Bakmi kepiting pontianak, Pengkang, Choi pan (seperti pastel tapi tidak digoreng). Glek!

 

Tiba di Surabaya, ternyata ada Farish (Oka Antara) bekas rekan kerja sekantor Aruna yang juga ditugasi oleh kantor barunya untuk menyelidiki kasus flu burung. Tentu saja Aruna kaget dan kesal karena dulu dia pernah naksir Farish dan masih suka. Repot kan. Semakin ramai, ketika muncul Nad (Hannah Al Rashid), sahabat Aruna seorang penulis yang ikut gabung jalan-jalan kulineran sambil kerja.

Farish tentu saja kaget. Pergi dinas, tapi kok ada teman-temannya yang ikutan buat wisata kuliner. Tapi Aruna meyakinkan bahwa dia akan tetap mengutamakan kerjanya, singkat cerita mereka berdua pergi mengunjungi daerah yang diduga terkena wabah flu burung. Setelah selesai bekerja, bersama dua sahabatnya, mereka berburu kuliner. Di meja makan, percakapan menarik selalu terjadi. Obrolan akrab antar sahabat. Saling ledek pun ada. 

Keadaan menjadi rumit ketika ternyata ada pihak lain yang juga mengadakan investigasi mengenai kasus flu burung, ditambah dengan hubungan antara Nad dan Farish yang semakin akrab. Aruna pun cemburu, demikian pula Bono, karena Bono naksir Nad tapi ngga berani bilang.

Pertengkaran antar sahabat tak terelakkan. Tapi namanya sahabat ya, walau pun bertengkar, pada akhirnya mereka baikan lagi. Bersatu lagi. Di meja makan.

Film ini disutradari oleh Edwin, peraih piala citra tahun 2017 sebagai sutradara terbaik untuk film Posesif. 

Film “Aruna dan Lidahnya” dibuat dengan gaya tutur, Aruna sebagai narator, yang bercerita kepada penonton, menghadap kamera.

Citra Dian Sastro sebagai Cinta dalam film “Ada Apa dengan Cinta, hilang sama sekali di film ini. Dian menjelma sebagai Aruna yang lucu dan ekspresif, memainkan matanya saat kesal dengan temannya, atau ketika Farish memegang bahunya, awalnya kaget, tapi Aruna malah menyenderkan badannya ke badan Farish, matanya menatap kamera dan tersenyum bahagia. 

Menonton film ini seperti melihat ketika saya dan teman-teman pergi berlibur. Obrolan di dalam kamar sambil menyantap makanan. Obrolan rahasia antar perempuan, atau lempar-lempar becandaan dan ledekan di antara teman.

Nicholas Saputra sebagai Bono terlihat lebih santai di sini, menampilkan sosok seorang chef juga seorang sahabat yang kadang nyebelin. 

Tampilan gambar di film ini juga melenakan mata dan menerbitkan air liur. Pemandangan di berbagai kota yang dikunjungi serta gambar makanan dengan teknik close up, menampilkan detail termasuk bahan-bahannya, cara memasak, menuang dan menyajikannya untuk disantap. Suaranya pun mendukung.

Ketika proses memasak, terdengar jelas bunyi air mendidih, minyak goreng yang panas, bunyi peralatan masak beradu. Masak bukan hanya untuk menyajikan makanan, tapi sebuah ritual untuk menghasilkan makanan yang enak dipandang dan disantap. 

Nah, yang menyebalkan adalah ketika makanan itu disantap. Aruna, Bono dan Nad menganggap ‘hidup untuk makan’. Mereka akan menyantap makanan dengan wajah yang sangat menikmati apa yang ada di piring. Ngiler! Ketika rasa asin, manis, asam bersatu dalam piring, menghasilkan rasa yang enak. Seperti hidup. Tidak hanya ada satu rasa, tapi berjuta rasa. 

  • yewscoHal lainnya yang bikin film ini bagus adalah musiknya. Anak 80-an pasti kenal dengan lagu-lagu Januari Christi, “Aku Ini Punya Siapa”, lagu Rida Sita Dewi berjudul “Antara Kita” dinyanyikan ulang dengan aransemen kekinian.

Aruna dan Lidahnya.

Aruna yang tidak bisa mengenal lagi rasa yang ada di mulutnya, juga di hatinya. Bagi Aruna, menyantap makanan itu bukan hanya apa yang kita makan, tapi juga dengan siapa kita makan, karena itu akan menambah rasa dalam makanan.

Aruna dan Lidahnya

Sutradara: Edwin

Pemain: Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, Hanna Al Rashid

(Hani Hasanah)

Film

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: