(Travelogue) Jangan Takut (Repot) Mendaki Gunung

Anak-anak sesampai di Danau Mati, Tegal Alun, Gunung Papandayan

Persiapan perjalanan kali ini, membutuhkan perencanaan yang agak lain daripada biasanya. Itu dikarenakan demografi peserta yang terdiri dari anak-anak dan remaja dari mulai SD kelas 1 sampai dengan SMA kelas 3, ditemani oleh para Ibu yang pengalaman terakhir mendaki gunung adalah 15 tahun yang lalu, bahkan ada juga yang belum pernah mendaki sebelumnya.

Sudah menjadi kewajiban bahwa dalam setiap perencanaan perjalanan faktor paling penting yang menjadi pertimbangan utama kami adalah kondisi cuaca di tempat tujuan, baru kemudian kita sesuaikan perlengkapan dan akomodasinya.

Cuaca yang pada saat itu tidak menentu, sempat membuat kita semua ragu, tapi setelah diyakinkan oleh pemandu lokal yang kita mintai pertolongan untuk membantu kami menyiapkan perlengkapan mendaki, akhirnya kita berangkat juga dari Bogor menuju Garut, untuk kemudian melanjutkan pendakian ke Gunung Papandayan.

Para pendaki Gunung Papandayan biasanya memulai perjalanan dari area tempat parkir Taman Nasional Gunung Papandayan, kita sempat terpana melihat kemajuan pembangunan di area Taman Nasional Gunung Papandayan ini. Kabarnya pengelolaan Gunung Papandayan sudah dikelola oleh pihak swasta dan perencanaan perluasan kawasan wisata sudah dilakukan dengan dimulainya pembangunan hotel di kaki Gunung Papandayan.

Tiket masuk dikenakan lebih tinggi. Di forum para pendaki gunung Indonesia, protes sudah banyak dilayangkan, mereka berharap agar pengelolaan area wisata Gunung Papandayan oleh pihak swasta jangan membuat masyarakat biasa jadi tidak bisa menikmatinya akibat tiket masuk yang dirasa terlalu mahal.

Setelah makan siang dan beristirahat sebentar, kami memulai perjalanan. Sesuai rencana dari awal, kami akan bermalam di area perkemahan Pondok Salada, perjalanan dari tempat parkir sampai tujuan diperkirakan sekitar 2 jam saja, beberapa barang yang kita anggap tidak perlu dibawa, kami tinggalkan untuk memudahkan pergerakan.

Seperti biasa, anak-anak langsung tancap gas, Ibu-ibu terseok-seok berusaha mengimbangi dari belakang. Beberapa ratus meter pertama jalur pendakian masih merupakan jalan aspal, setelah itu berlanjut dengan medan berpasir. Sisi kiri jalur pendakian merupakan area kawah-kawah yang banyak diantaranya masih aktif, bisa dilihat dari letupan-letupannya yang muncul di permukaan. Para pendaki dilarang keras melompati batas yang sudah ditetapkan, apabila angin bertiup dari arah kiri, aroma tidak sedap belerang meruap di udara. Sisi kanan jalur pendakian adalah barisan bukit yang sebagian areanya sudah gundul, di angkasa kita lihat beberapa burung elang seperti sedang mencari mangsa. Hutan Gunung Papandayan memang merupakan kawasan lindung untuk burung elang yang dilindungi.  

Mendaki trek terjal dan tandus, sebagian besar trek menuju Pondok Salada di Gunung Papandayan , didominasi oleh trek seperti ini

Para peserta yang sudah tancap gas sejak awal sudah tidak kelihatan, mungkin mereka mengikuti langkah cepat pemimpin rombongan. Saya sendiri berjalan paling belakang sambil menemani anggota rombongan termuda menapaki jalur pendakian, sempat juga sedikit kuatir apabila ia mendadak meminta digendong (biasanya terjadi kalau dia mulai malas mendaki tanjakan), terbayang rasanya mendaki diganduli beban 20kilo.

Walau tidak terlalu terjal, Papandayan memang terkenal dengan jalur pendakian yang menanjak dan terbuka, hampir seluruhnya adalah jalur terbuka, beruntung saat itu matahari tidak terlalu terik, karena tidak ada tempat yang bisa dipakai untuk berteduh.

Setelah hampir dua jam lebih berjalan, akhirnya kita tiba di area perkemahan Pondok Salada, tenda-tenda sudah terpasang, dan persiapan makan malam sedang disiapkan. Anak-anak yang sudah tiba lebih dulu sudah berpakaian rangkap, saat itu udara sangat dingin luar biasa, hampir semuanya berlindung dalam tenda mencari kehangatan, hujan sempat turun, beruntung untuk waktu yang tidak lama.

Tempat kita mendirikan tenda-tenda untuk bermalam, di bawah rimbunan pohon di Pondok Salada

Setelah hujan, langit mulai terang. Sambil menunggu kantuk, para orang tua berkerumun di perapian, anak-anak sudah terlelap. Mereka memang kami suruh untuk segera tidur cepat karena esok harinya berencana untuk mendaki ke tempat yang lebih tinggi lagi, menuju Tegal Alun di ketinggian 2400mdpl.

Udara semakin dingin, malam terasa lebih panjang, beberapa kali kita terbangun berharap matahari sudah terbit untuk mendapatkan kenyataan bahwa fajar masih lama tiba sedangkan udara dingin sudah semakin bebas menembus masuk ke dalam kantong tidur kita masing masing. Selain itu juga beberapa kali tenda bergoyang-goyang dan terdengar suara-suara aneh, karena sudah terlalu mengantuk dan capek, kami biarkan, esoknya kami baru tahu bahwa ada kawanan babi hutan yang menyeruduk, mereka datang karena tertarik dengan bau makanan yang terendus dari tenda-tenda kami.

Rieza, Meta, Eka Ujang, Syemmi dan Bambang menikmati siraman matahari pagi di Pondok Salada, setelah malam sebelumnya harus menahan hawa dingin

Gunung Papandayan merupakan gunung yang dikenal oleh para pendaki sebagai gunung yang tingkat kesulitannya sesuai untuk pendaki segala umur, tentu saja asalkan sehat dan sudah atau masih bisa berjalan. Sepanjang perjalanan mendaki, sempat beberapa kali bertemu dengan sesama pendaki yang membawa anak-anak mereka, kebanyakan dari mereka melakukan pendakian Tek-Tok, istilah bagi para pendaki yang melakukan perjalanan pulang pergi dalam satu hari tanpa bermalam.  

Hampir tidak pernah ada cerita pendaki yang hilang atau tersesat di Papandayan, asalkan mendaki sesuai jalur yang sudah ditentukan, dijamin aman. Selama pendakian anak-anak kami berjalan sendiri tanpa kesulitan, justru kami orang tua yang kerepotan, terutama di bagian tanjakan. 

Bagi yang ingin melakukan pendakian Tek-Tok disarankan agar memulai pendakian di pagi hari supaya tidak kemalaman di jalan, dan cukup waktu untuk mendaki sampai ke Tegal Alun.Walaupun dinamakan gunung, tapi Papandayan ini tidak memiliki puncak, para pendaki cukup puas mendaki sampai ke Tegal Alun sebagai tujuan akhir untuk kemudian berjalan pulang memutar melewati hutan mati, yang merupakan ikon dari Gunung Papandayan.

Trek mendaki yang cukup terjal untuk menuju ke Tegal Alun dari Hutan Mati, tapi masih bisa dilalui dengan hati-hati

Apabila anda mempunyai akun di Instagram, coba lakukan pencarian dengan menggunakan tagar #papandayan, maka hampir dipastikan 90% dari foto yang muncul adalah foto-foto yang diambil di area hutan mati Papandayan. Jalanan berkerikil dengan pohon-pohon yang sudah mati meranggas tanpa daun memang sangat eksotis sebagai latar belakang foto, tak heran apabila banyak para pendaki yang sengaja parkir lama-lama di hutan mati untuk memuaskan diri ber-swafoto, tidak peduli kulit sudah terbakar matahari.

Panorama Hutan Mati, Gunung Papandayan

Berfoto di hutan mati seperti menjadi pelampiasan nafsu berfoto, karena saya menguping pembicaraan dari sesama pendaki yang kecewa karena tidak mendapatkan momen sunrise apalagi sunset. Papandayan memang bukan untuk para pemburu matahari terbit, lebih baik tidur daripada blusukan naik ke bukit untuk menangkap foto matahari terbit.

Perjalanan ke hutan mati dari tempat berkemah hanya 30 menit saja, jalur yang landai membuat anak-anak yang sudah segar setelah cukup tidur dan sarapan langsung ngebut, di hutan mati perjalanan agak tersendat-sendat karena setiap orang berusaha mengambil foto sebanyak-banyaknya, keindahan hutan mati (mati tapi indah, memang agak kontradiktif) juga ternyata membuat anak-anak terpana, tapi bukan hutan mati yang menjadi tujuan akhir pendakian, Tegal Alun masih berjarak sekitar 1 jam mendaki dari hutan mati.

Hari sudah siang, matahari juga semakin tinggi, anak-anak mulai ogah-ogahan, jalur pendakian hutan mati ke Tegal Alun ternyata menjadi tantangan terberat bagi anak-anak (dan juga orang tuanya), jalur tanjakan sebagian besar curam dan terjal, beberapa bagiannya malah harus dipanjat. Ketika para orang tua kerepotan, anak-anak malah tertawa-tawa, namanya juga anak-anak, panjat memanjat mungkin sedikit mengingatkan mereka bahwa mereka masih anak-anak. Lucu juga.

Suasana malam di Pondok Salada, sambil ronda menghalau babi hutan yang mencari makan ke lokasi tempat berkemah

Tidak banyak pendaki yang melanjutkan perjalanan sampai ke Tegal Alun, kebanyakan dari mereka cukup puas sampai ke hutan mati, dan memang benar, setiba di Tegal Alun, hanya rombongan kita saja di sana, berbeda dengan situasi di Pondok Salada yang sangat ramai.

Tegal Alun sebenarnya adalah area cekungan di antara bukit yang dipenuhi oleh Edelweis, mungkin hampir sama dengan Alun-Alun Suryakencana di Gunung Gede, atau padang pasir Bromo, para pendaki dilarang untuk berkemah di Tegal Alun, selain untuk menjaga agar terhindar dari kebakaran, posisinya sebagai alas cekungan sangat tidak ideal untuk dijadikan tempat bermalam, apalagi hanya ada Edelweis yang tumbuh di sana, tidak ada pepohonan yang bisa kita jadikan sebagai perlindungan terhadap angin atau hujan, apabila di Pondok Salada sudah begitu dingin, di Tegal Alun, mungkin bisa tambah dingin sebesar tiga puluh persen.

Tegal Alun, Gunung Papandayan

Untuk mencegah para pendaki mendirikan tenda disitu, para pemandu lokal biasa menambah-nambahi dengan cerita bahwa ada harimau yang berkeliaran di bukit yang mengitari Tegal Alun, entah harimau jenis apa.

Sebenarnya tanpa adanya harimau berkeliaran pun, membayangkan betapa dinginnya lokasi itu diterjang angin yang bergerak turun dari bukit yang memutarinya saja sudahcukup membuat nyali ciut.

Trek memutar dari Hutan Mati kembali menuju tempat pertama mendaki, disuguhi pemandangan indah kawah dan jalan yang menurun curam

Kita jelaskan kepada anak-anak mengenai sedikit ilmu alam ini, tapi tidak ada seorangpun yang tertarik mendengarkan, mungkin perut mereka sudah lapar, beberapa dari mereka bahkan sudah mulai mengeluh, teringat bahwa perjalanan turun masih berjarak 3 jam lagi, sementara kaki-kaki mereka sudah pegal dan apalagi kepanasan, ditambah perut yang keroncongan.

Saya masih berusaha untuk menyampaikan satu pepatah kebijaksanaan, bahwa bagi para pendaki gunung, tujuan utama mendaki itu bukanlah untuk mencapai puncak gunung, tapi kembali sampai rumah dengan selamat. Tapi seperti biasa, tidak ada yang tertarik mendengarkan, mereka semua sudah ngebut berjalan kaki lagi menuju tempat dimana kita memulai pendakian. Dalam waktu kurang dari dua jam semua sampai di tempat parkir dengan selamat, yang tiba lebih dulu malah sudah melahap pop mie, sebagian sedang mandi membersihkan diri.

Di malam kedua, kami menginap di Garut, nikmat rasanya bisa tidur di kasur empuk dengan bantal dan guling, apalagi sambil ada yang memijat betis yang lumayan pegal. 

(RF/RBAN).

Travelogue

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: