(Travelogue) Berjuta Kata Untuk Ranu Kumbolo

Kadang kala, kita tidak tahu kapan sebuah ajakan mendaki gunung itu datang. Beruntung saya rajin olahraga jalan kaki setiap minggu, jadi ketika ajakan itu datang, saya sudah siap. RANU KUMBOLO, saya datang! Tujuan impian bagi pendaki pemula macam saya.

Ranu Kumbolo adalah danau yang berada di ketinggian 2400 meter di atas permukaan laut, biasa dilalui oleh para pendaki yang akan mendaki Sampai ke Mahameru, puncak Gunung Semeru, ialah gunung tertinggi di Pulau Jawa (ketinggian 3676 mdpl).  

Gunung Semeru ini masuk di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger, Jawa Timur. Buat saya, hiking ke Ranu Kumbolo kiranya masih cukup sesuai dengan kemampuan, kali ini tujuan saya hanya ingin leyeh-leyeh di pinggiran danau sambil menikmati pemandangan cantik dan semilir angin gunung.

Sebenarnya impian ini hampir terwujud tiga tahun lalu, tapi batal karena saat itu ada seorang pendaki hilang di Gunung Semeru sehingga kawasan Semeru harus ditutup hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Padahal saat itu tiket sudah di tangan, dan SIMAKSi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) sudah diurus.

Jadi, waktu teman-teman masa SMA, Rieza, Meta, Eka dan Bambang mengajak hiking ke Ranu Kumbolo akhir April 2018 lalu, awalnya saya ragu-ragu. Takut kejadian tiga tahun lalu terulang, selain itu waktunya juga terlalu berdekatan dengan tugas kantor yang mengharuskan dinas ke Makasar (saya kebetulan ditugaskan untuk mempersiapkan acaranya), dan setelah dihitung, waktu kepulangan mendaki dan pergi ke Makasar hanya berselang dua hari saja. Ngebayangin capeknya, dengan sangat berat hati, saya menolak ajakan tersebut.

Tapi, teman perjalanan tidak akan meninggalkan temannya tenggelam dalam pekerjaan kantor. Haha.. ini bener loh.  Teman-teman tetap sangat gigih mengajak dengan merayu dan mencari jalan supaya saya bisa pergi tanpa harus meninggalkan kerjaan.

Akhirnya saya luluh.

Rayuan mereka sangat ampuh, hampir tiap hari mereka mengirim foto-foto cantik Ranu Kumbolo, solusi yang mereka tawarkan pun mantap. Walhasil, saya mendapat ijin cuti, beli tiket perjalanan sekitar sepuluh hari sebelum berangkat.

Di hari-H saya ngebut menyelesaikan pekerjaan kantor hingga sore, karena malamnya saya harus berangkat ke Surabaya, menyusul teman-teman yang sudah berangkat sejak subuh di hari yang sama dan sudah tiba duluan di lokasi, mereka sudah mulai mengirim foto-foto cantik mereka yang sedang berada di padang rumput Bromo. Hiks.. Nasib kuli ibukota. 

Ternyata bukan saya seorang saja yang harus berkutat dengan pekerjaan sebelum berlibur. Ada Gilang, teman senasib.  Walau sama-sama berangkat dari Jakarta, tapi kami tidak bisa berangkat bareng. Saya berangkat dari bandara Cengkareng, sedangkan Gilang dari Bandara Halim.  

Saya tiba di Surabaya lebih dulu. Tak lama kemudian Gilang tiba. Ini pertemuan pertama kali dengan Gilang, adik sahabat saya. Salah satu asyiknya melakukan perjalanan adalah kita sering bertemu dengan teman baru, saling berbagi cerita dan mendapatkan hal-hal baru. Kami lalu bergegas naik mobil jemputan. yang akan mengantarkan kami menuju Ranu Pani.

Ranu Pani

Oh ya, Ranu Pani adalah desa yang paling dekat dengan kawasan Gunung Semeru dan menjadi salah satu gerbang pendakian menuju Gunung Semeru yang paling populer. Di desa inilah kita melakukan persiapan sebelum mendaki. Supir memberikan info bahwa lama perjalanan dari Surabaya menuju Ranu Pani adalah enam jam! Perjalanan tanpa macet loh ini, berarti jauh banget kan !

Saya sudah hampir tertidur lelap, ketika supir memberitahu bahwa sebentar lagi kita akan tiba di desa Sukapura, Probolinggo. Nggak jadi tidur deh. Tepat tengah malam, kami tiba. Kami harus berpindah kendaraan. Menggunakan jip. Perjalanan masih panjang! Dua jam lagi untuk tiba di Ranu Pani! Udara mulai terasa dingin, sengaja saya tidak mengenakan jaket dalam rangka menyesuaikan badan dengan suhu sekitar, padahal teman-teman yang sudah beristirahat di Ranu Pani sudah mengingatkan untuk menyiapkan jaket, karena udara dingin sekali.

Kendaraan Jeep yang dipakai untuk mengarungi lautan padang pasir dari Sukapura – Ranu Pani dan sebaliknya

Jip melaju kencang di jalanan yang sepi. Iyalah tengah malam, nggak ada kendaraan yang melintas. Supir menyarankan kami untuk istirahat dan tidur. Tapi boro-boro tidur. Mobil ngebut di jalanan yang rutenya berbelok-belok, sehingga kami harus berpegangan erat di sandaran kursi supir, supaya tidak terbanting.

Saya menajamkan pandangan ke luar. Walau malam tapi terang bulan membantu untuk melihat. Padang pasir? Ternyata kami berada di tengah padang pasir, dan debu pasir terlihat dari sorotan lampu mobil di depan. Mobil masih ngebut. Sedikit zig-zag lajunya. Tiba-tiba ……….

Saya dan Gilang menjerit kaget dan kesakitan. Mobil seperti terlempar ke udara dan dihempaskan ke tanah. Kami penumpang di belakang terlompat dari kursi, kepala membentur atap mobil, jatuh lagi ke kursi, terpelanting ke depan, tas-tas ransel berhamburan menimpa tubuh kami berdua. Mobil berhenti. Hening…

Saya merasakan sedikit rasa amis di bibir. Bibir tergigit ketika saya terlompat dari kursi. Gilang merintih kesakitan. Kepalanya menghantam atap mobil dengan keras. Ternyata mobil terperosok di parit yang cukup lebar. Dengan kesal kami berdua meminta supir supaya tidak lagi mengebut ugal-ugalan.

Menjelang dinihari, kami tiba di penginapan Ranu Pani. Seorang lelaki berperawakan tinggi (kemudian saya tahu bernama Pak Untung) memberi salam dan menyambut kami. Kami tidak membalas salamnya karena masih syok akan kejadian kecelakaan di Jip sebelumnya. Saya memapah Gilang yang berjalan pincang karena kakinya sakit. Tiba di kamar yang sudah disiapkan, terlihat Eka yang sudah tidur berselimut tebal. Saya berbaring di kasur bawah mengenakan jaket dan kaos kaki dan langsung tertidur. Pulas. Saya lelah. Dingin berasa di ujung kaki. Ini masih di Ranu Pani. Gimana nanti dinginnya di Ranu Kumbolo?

Subuh, saya terbangun. Meta dan Rieza sudah berkumpul di kamar, rupanya mereka ingin memeriksa keadaan saya dan menanyakan kronologi kejadian dan nama supir. Waduuhh! Saya lupa nggak tanya namanya. Pelajaran: kenali teman perjalanan dan tanya namanya. Penting. Saya tidak luka parah. Gilang masih sakit kakinya, dan memar di leher. Tapi semangat mendakinya tidak surut, tetap mau ikut mendaki. Yeaayyy..! Kami pun melanjutkan tidur, rencana ditetapkan berjalan seperti semula, hiking akan dimulai setelah sarapan pagi.

Di pagi harinya, saya dan teman-teman mulai berkemas-kemas. Saya berkenalan dengan peserta lainnya yang juga baru pertama kali bertemu, Acong. Saya sudah mengenal anggota rombongan lainnya, ini adalah perjalanan kedua bersama Tommy, Ozin, Hamaya dan Kalief (anak bungsu Meta dan Rieza yang merupakan anggota rombongan paling muda), sebelumnya dengan anggota rombongan yang sama, kami pernah menjelajah Ciletuh selama tiga hari dua malam (ps : ceritanya akan ditulis di kesempatan lain). Jadi,  Ranu Kumbolo ini adalah perjalanan rombongan kami kedua.

Berfoto lengkap di depan kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kantor tempat dimana seluruh pendaki wajib mendaftarkan dirinya sebelum mulai mendaki

Karena ada porter yang akan membawa perlengkapan, kami hanya membawa daypack (tas ransel biasa) berisi keperluan pribadi, seperti botol minum, jaket, makanan, obat-obatan pribadi. Kami tidak mau bawa beban berat. Sesuaikan dengan kemampuan dan umur. Hehe Penting!

Ozin putra sulung Eka, membawa sendiri keperluan kempingnya: sleeping bag dan lain-lain. Lebih gagah kan kalau naik gunung bawa carrier, tapi Tante Hani mau tampil cantik ajah. Bawa daypack dan kamera. 

Hari masih pagi sekitar pukul 7, Desa Ranu Pani sudah ramai dengan para pendaki. Tua muda. Laki perempuan. Tumpukan ransel-ransel besar terlihat bertumpuk-tumpuk di warung makan dan teras penginapan. Orang-orang berlalu lalang sambil memanggul ransel, banyak wajah-wajah penuh semangat untuk mendaki, sedangkan dari arah gunung, banyak wajah-wajah lelah namun bahagia turun dari pendakian.

Pagi itu saya bertemu lagi dengan Pak Untung, yang ternyata akan memandu pendakian dan membantu mengurus administrasi. Oh ya, sekitar sepuluh hari sebelum keberangkatan, Rieza sudah memberitahu semua peserta perjalanan untuk mengirimkan KTP untuk pengurusan pendaftaran dan SIMAKSI, (pendaftaran ini sudah bisa online, bisa di googling aja ya situsnya), dan surat keterangan sehat dari dokter. Kami mengumpulkan surat keterangan sehat kepada Pak Untung.

Suasana pagi di desa pendaki, Ranu Pani. Desa terakhir sebelum memulai perjalanan hiking ke Gunung Semeru atau Ranu Kumbolo, inilah tempat terakhir untuk memeriksa kelengkapan mendaki

Sebagai salah satu persyaratan pendakian, kita harus berbadan sehat dan hati gembira. Kalau hati sedih lebih capek loh mendakinya. Lupakan kerjaan kantor. Matikan hape. Eh jangan ding. Nyalain buat berfoto tapi matiin mobile datanya. Untunglah provider selular yang saya gunakan susah mendapatkan sinyal. Senang malah. Jadi nggak sibuk terima pesan, email dan uplod foto. Heuheu..

Ketika sedang menunggu Pak Untung, muncul Mbak Puteri, teman satu tim Pak Untung, memberitahu kami untuk periksa kesehatan, karena surat keterangan sehat yang berlaku adalah sehari sebelum pendakian. Sedangkan surat kami dibuat dua-tiga hari sebelumnya. Jadinya, kami semua berbondong-bondong menuju pos kesehatan. Kami diukur tekanan darah. Untungnya tekanan darah saya bagus. Padahal kurang tidur. Biaya periksa kesehatan per orang adalah Rp. 35.000.

Setelah itu, kami menuju pos briefing. Antrian di sini cukup panjang. Kami cukup lama menunggu. Setiap pendaki harus mengikuti briefing oleh pengelola taman nasional, supaya mentaati peraturan selama pendakian dan selama berada di kawasan taman nasional untuk ikut menjaga pelestarian kawasan konservasi. Beberapa diantaranya adalah tidak boleh membawa tissue basah, mandi atau berenang di danau, bikin api unggun, dan ternyata batas minimal usia pendaki adalah sepuluh tahun.

Yaaahh.. Berarti Kalief nggak bisa ikut mendaki, karena usianya di bawah sepuluh tahun. Rupanya di malam sebelumnya, Rieza dan Bambang sudah mencoba untuk bernegosiasi dengan memaparkan track record Kalief yang sudah beberapa kali diajak mendaki ke beberapa gunung, tapi kepala penjaga di pos Ranu Pane tetap tidak mengijinkan, akhirnya diputuskan Kalief akan tinggal di Ranu Pane bersama Rieza dan melakukan hiking ke beberapa danau dan tempat di sekitar Ranu Pane, dengan itu maka peserta pendakian menjadi bersembilan: saya, Meta, Eka, Gilang, Hamaya, Bambang, Ozin, Tommy dan Acong, Mbak Puteri, dipandu oleh Pak Untung dan Mas Teguh.

Ranu Kumbolo, kami datang….

Ranu Kumbolo

Sebelum melewati gerbang awal pendakian, kami harus melapor ulang di pos penjagaan. Di gerbang ini kami harus berpisah dengan Rieza dan Kalief. Sedih juga harus meninggalkan teman dan tidak bisa bersama melanjutkan perjalanan. Tapi haiii.. mereka berdua terlihat baik-baik saja (mungkin karena sebelumnya sudah pernah ke Ranu Kumbolo). Sedangkan kami harus berjuang mendaki menuju Ranu Kumbolo.

Gerbang terakhir di Ranu Pani, gerbang untuk melepas para pendaki yang akan menempuh perjalanan panjang menuju Gunung Semeru

Untuk mencapai Ranu Kumbolo, kami akan melewati 4 pos, menurut Mas Teguh lama pendakian dengan berjalan santai akan memakan waktu selama 4 jam. Mas Teguh berjalan paling depan dan kami berbaris di belakangnya.

Perjalanan menuju pos satu medannya cenderung landai. Kita bisa berjalan santai sambil menikmati pemandangan melewati perkebunan warga,  cuaca pagi itu sangat bagus. Cerah. Udara sejuk.

Jalur hiking di awal perjalanan adalah jalanan yang tersusun dari paving block yang tersusun rapi, kemudian setelah itu medan berubah menjadi tanah padat. Kita berjalan mengikuti trek dengan beriringan, dan awalnya dengan jarak yang masih berdekatan. Tapi lama kelamaan semakin terpisah, Gilang berjalan pelan karena kakinya masih terasa sakit ditemani oleh Eka, Acong, Tommy dan Pak Untung.

Menjelang pos satu, jalanan sedikit menanjak. Nafas mulai ngos-ngosan, kami berseru gembira ketika tiba di pos satu. Ada warung!. Kami menyerbu semangka merah yang segar, dingin dan manis. Enak banget! Setelah menghabiskan dua semangka dan satu gorengan (yang lainnya makan tiga potong semangka!), kami melanjutkan perjalanan menuju pos dua.

Menuju pos dua, jalanan masih landai. Kami menyusuri semacam tebing di bagian kanan, sedangkan di bagian kiri adalah lembah. Di pos dua juga ada warung, tapi kami sengaja tidak beristirahat disitu. Di sepanjang perjalanan, kita berpapasan dengan banyak pendaki, banyak yang memberi semangat, menyapa dan memberi senyum. Itulah dia ciri khas kekerabatan cerminan solidaritas sesama pendaki.

Jalanan menuju pos tiga masih landai,  sedikit naik turun. Tapi masih aman. Tiba di pos tiga, kami kembali beristirahat menyerbu semangka dan tahu goreng diolesi sambal petis. Enak! Pokoknya makanan di gunung selalu berasa enak. Saya juga sengaja membawa bekal kurma untuk menambah energi. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.

Menuju pos empat. Inilah pendakian sesungguhnya. Kami langsung disuguhi tanjakan curam. Inilah medan yang membuat dengkul bertemu dengan jidat. Nafas terasa berat. Saya merangkak pelan, tidak jaramg beristirahat diam di tempat setelah mendaki lima langkah.

Melewati tanjakan, jalanan kembali landai, dan di sini, saya bisa melihat keagungan Mahameru dari kejauhan. Saya terdiam cukup lama, sibuk motret, sementara teman-teman sudah berjalan jauh di depan.

Berfoto selepas Pos 4, dengan latar belakang Ranu Kumbolo dan Gunung Semeru di kejauhan.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan sendirian, ketika menengok ke belakang ada seorang porter berjalan cukup cepat dan hendak mendahului. Saya pun minggir memberikan jalan kepadanya dan berjalan mengikuti di belakangnya. Porter itu berjalan cepat. Seperti ada magnet, saya seperti ditarik ikut berjalan cepat. Huaaaa.. untung tiap minggu saya suka jalan kaki, jadi bisa mengikuti langkah si bapak porter itu.

Tidak lama, nampak kelihatan teman-teman yang tadi berjalan duluan, mereka pun minggir memberikan jalan kepada bapak porter dan bengong melihat saya yang berjalan cepat.  Saya melewati teman-teman sambil berteriak, “saya duluan yaaa…  nggak bisa ngerem kaki..!”

Saya berhenti lagi menjelang pos empat karena di bawah sana, terbentang pemandangan yang selama ini saya impikan. Ranu Kumbolo!

Keindahan Ranu Kumbolo, selepas Pos 4 

Danau hijau. Padang rumput dengan awan yang terlihat bergerak pelan di depan mata. Puncak Mahameru menjulang di kejauhan. Tuhan. Indah sekali ciptaanMu.

Saya, Ozin, Hamaya dan Bambang tiba lebih dulu di sini, bersama Mbak Puteri. Foto-foto dulu, tidak lama Meta yang berjalan bersama Mas Teguh juga tiba. Dengan hati senang kita foto-foto lagi. Oh ya, di sini ada spot bagus buat foto-foto. Ada batu cukup besar. Berdiri atau duduk di sana dengan latar danau di bawah. Keren!

Kami lima perempuan, termuda adalah Hamaya 13 tahun putri sulung Rieza dan Meta yang berhasil mencapai Ranu Kumbolo setelah berjalan kurang lebih 4 jam dari Ranu Pane.

Dari pos empat menuju Ranu Kumbolo, kita harus berjalan menuruni bukit. Cukup curam. Tapi ada jalur landai memutar melewati padang rumput sepanjang danau menyusuri jalan setapak menuju tempat perkemahan. Akhirnya kami tiba disana, setelah empat jam berjalan. Persis seperti yang dibilang oleh Mas Teguh di awal perjalanan.

Deretan tenda-tenda di pinggiran Ranu Kumbolo, terlihat sudah sangat dekat, tapi ternyata masih harus dicapai dengan jalan memutar yang cukup jauh

Menjelang malam, udara semakin dingin. Bulan sudah muncul sejak sore, dan semakin bersinar ketika hari semakin gelap. Sinarnya memantul di danau. Indah.  Nggak ada fotonya. Sayang memang. Saya tidak memotret karena kedinginan, jari-jari beku dan sulit dipakai untuk memegang kamera dan hape, terlalu malas untuk membuka lagi sarung tangan. Jam delapan malam, saya menyerah. Masuk tenda dan menyelusup masuk ke kantong tidur. Udara semakin dingin. Di dalam tenda saya mencoba tidur dan berharap pagi datang lebih cepat.

Menuruni bukit setelah Tanjakan cinta dengan suguhan pemandangan seperti ini, kami ingin kembali ke Ranu Kumbolo

Dingin bangettt ! ..Brrrrr..!

Pagi pun tiba. Keriuhan mulai terdengar. Pemburu matahari pagi sudah bersiap. Inilah keindahan semesta yang dinanti para pendaki. Bias matahari mulai muncul. Langit biru perlahan jingga. Kabut pagi diatas permukaan danau mulai tersibak tertiup angin. Kami semua terpana.Terpesona. Dan kalap motret. Jangan terpaku dengan danau saja ya, apabila kita memutar badan melihat ke belakang, bisa terlihat cahaya matahari jatuh menyinari perbukitan.

Sarapan sederhana di bawah sinar mentari pagi yang hangat, saat-saat seperti adalah dimana sesama pendaki telah dianggap sebagai keluarga dan saudara

Sambil berjemur di bawah hangatnya matahari pagi, kami menikmati sarapan. Oh ya, selama berkemah di sini, kita dilarang untuk cuci peralatan makan/masak di danau karena akan mencemari air danau. Tapi kita masih diperbolehkan mengambil air danau menggunakan botol, dan menggali tanah untuk membuang air cucian. Jangan masukkan anggota badanmu ke danau ya. Kalau mau wudhu, ambil air dengan botol, dan sedikit menjauh dari danau. Di sini pun sudah tersedia toilet.  Dilarang membawa tissue. Jadi, lebih baik bawa handuk kecil.

Suasana pagi di Ranu Kumbolo, di bawah hangatnya sinar matahari yang ditunggu-tunggu sejak malam, sungguh satu pengalaman yang berkesan bagi kita semua

Kalau mau cari kehangatan, kita bisa berkumpul di dekat api unggun di dekat toilet. Semalam, Eka dan Gilang sengaja berlama-lama di sini supaya hangat, tapi ketika kembali ke tenda, kedinginan lagi. Huaaaa..!

Setelah selesai sarapan, peserta bersiap untuk menuju Oro-oro Ombo, inilah salah satu trek terkenal ketika mendaki Semeru, ialah tanjakan yang dikenal dengan nama Tanjakan Cinta yang sangat curam dan panjang.

Berfoto sambil beristirahat sejenak di padang rumput Oro-oro Ombo

Tanjakan ini juga menjadi jalur bagi para pendaki yang akan menuju puncak Mahameru. Banyak pendaki yang membawa ransel besar berjalan pelan, saya yang hanya bawa  tas kecil, juga berjalan pelan. Ngos-ngosan euy.  Tapi semua itu setimpal, setelah akhirnya berhasil melewati Tanjakan Cinta yang terkenal itu, kita disuguhi pemandangan yang indah.  

Menyusuri jalan setapak menuju Oro-oro Ombo

Padang rumput terbentang luas, ditumbuhi tanaman dengan bunganya yang berwarna ungu, dengan latar bukit hijau.

Bambang sedang mengambil video, di belakangnya adalah Tanjakan Cinta yang terkenal itu, kita bisa melihat para pendaki yang sedang berjuang di tanjakan 😁

Setelah puas menikmati pemandangan, sedikit menjelajah dan berfoto, kami kembali ke Ranu Kumbolo, karena harus bersiap pulang kembali menuju Ranu Pani. Perjalanan kembali ke Ranu Pani ditempuh lebih cepat. Kami beristirahat hanya sebentar.

Di Oro-oro Ombo bersama Meta, sahabat sejak SMP dan SMA, kata Rieza apabila ada teman seperjalanan mendaki yang saling mendukung hingga bisa sama-sama sampai puncak/tujuan akhir, statusnya harus otomatis naik menjadi saudara

Alhamdulillah, kami semua kembali dengan sehat, selamat dan gembira. Berhasil kembali berkumpul di penginapan Ranu Pani dan bersiap untuk perjalanan berikutnya ….

Berkemas pulang di Terminal Ranu Pane untuk menuju ke petualangan berikutnya …. BROMO !!

Bromo!

Masih mau diterusin ceritanya? Hehehe perjalanan kami ke Bromo ini juga tidak kalah seru dan menakjubkannya. Tapi, nanti saja ya … 

(Hani Hasanah)

Foto-foto di halaman ini adalah koleksi pribadi Rieza dan Meta.

Travelogue

magazinegani92 View All →

Online Newsletter for All Alumni of SMA 2 Bogor, Class of 1992.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: